Proses Terbentuknya Karakter (1)

Karakter merupakan dasar dari sikap atau perilaku yang ditunjukkan keseorang secara spontan. Orang yang memiliki karakter sebagai orang jujur, akan senantiasa berkata jujur bagaimanapun kedaannya. Akan ada kegelisahan seandainya suatu kali dia melakukan kebohongan. Seorang yang berkarakter sabar secara spontan dan tanpa rekayasa akan menunjukkan sikap sabar dalam kondisi apapun.  Sebaliknya orang dengan karakter tidak sabar dan pemarah, akan cepat tersinggung jika ada hal yang tidak sesuai dengan kehendaknya.

Bagaimana karakter itu dapat terlihat?

Cerita yang sering didengar antara lain tentang seseorang yang kakinya terinjak orang lain (sebut sebagai si A). Bayangkan A yang sedang berada dalam antrian, atau berdiri di dalam Bus kota. Tiba-tiba ada yang menginjak kakinya sehingga terasa sakit. Akan ada beberapa kemungkinan yang muncul. Kemungkinan pertama, yang kakinya terinjak, akan reflek mendorong atau memukul si penginjak, yang disertai makian, “ Tidak punya mata kau? Lihat-lihat kalau melangkah!” . Matanya memandang dengan ungkapan tidak senang, menatap tajam seakan sedang melihat musuhnya, sambil menunggu reaksi lawan bicaranya itu.

Kemungkinan ke dua, si A akan menepuk bahu si penginjak sambil berkata,” Maaf, Mas kaki saya keinjak!” Sambil sedikit meringis namun berusaha melemparkan senyum.

Sikap yang diambil oleh orang yang kakinya terinjak ini ada spontan tanpa di rekayasa. Sikap itu adalah wujud ekspresi apa yang ada di dalam hatinya. Tidak mungkin orang dengan karakter pemarah akan berlakun seperti orang yang kedua, memberi tahu sambil tetap tersenyum dan berkata, Maaf Mas!

Dijalan, sebuah mobil mewah berjalan. Mobil itu terlihat menyolok diantara mobil-mobil yang ada. Kendaraan lain tidak mau terlalu dekat, karena khawatir bila tergeser. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat pintu mobil itu terbuka sedikit. Sebuah motol minuman kosong seperti dilemparkan ke luar mobil. Orang di dalam mobil itu melemparkan sampah ke luar, ke jalanan. Orang yang memiliki karakter baik, yang terbiasa hidup bersih tentu tidak akan melakukan hal itu.

Semua ilustrasi yang digambarkan di atas adalah ekspresi karakter yang keluar dari dasar nurani seseorang. Sikap yang muncul bukanlah suatu yang dibuat-buat atau direkayasa. Dia bukan merupakan suatu keterampilan, lebih dari itu, telah menjadi budaya, bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di lain pihak, ada seseorang sebut saja B, yang untuk suatu alasan, karena sekolah atau bekerja, tinggal di Singapura untuk beberapa waktu, katakan saja satu  tahun. Meski dia berasal dari tempat dimana masyarakatnya hidup kurang terartur, membuang sampah sembarangan, di jalan, atau di bantaran sungai, namun begitu sampai di Singapura, kebiasaan membuang sampah sembarangan seakaan langsung hilang. Meski dia terbiasa ugal-ugalan dalam menyetir di jalan raya di tempat asalnya, namun di tempat baru dia berubah menjadi tertib.

Ketika antrian menunggu taksi, dia antri dengan tertib. Ketika antrian berbelanja di super market, dia juga ikut tertib. Meludah di sembarang tempat jadi pantangan. Kalau menyetir, hampir tidak pernah terdengar dia menekan klakson mobilnya. Ketika di trafic light, dia patuh. Pokonya sikap, prilaku dan tatacaranya tidak berbeda dengan orang lain, sama sama tertib. Apakah si B sudah memiliki karakter baru?

Kemudian setelah satu tahun B kembali ke kampung halamannya. Tiba-tiba saja dia berubah, kembali “normal”. Kalau di jalan raya tidak sabaran, kadang-kadang menerobos lampu merah. Tiap sebentar menekan klakson mobil untuk menyuruh kendaraan di depannya minggir. Membuang sampah juga tidak selalu di tempatnya? Ikut berdesak-desakan ketika menitipkan tas di super market, begitu juga ketika hendak mengambil titipan itu. Kemana karakter baiknya ketika berada di Singapura?

Apa bisa karakter berubah-ubah seperti itu? Jawabannya adalah: kelakuan baiknya ketika di luar negeri itu bukan karakter, tapi Budaya. Dia ikut budaya di mana dia berada. Ketika berada dilingkungan dengan budaya baik dan serba tertib dan disiplin, dia ikut tertib. Ketika berada dalam lingkungan yang berbudaya kurang tertib, dia ikut kurang tertib. Berarti tertib dan disiplin bukan karakter yang ada dalam dirinya.

Seorang orator, atau aktor, mampu mengungkapkan fikiran melalui kata-kata yang indah. Apa yang diucapkannya dapat ditangkap dengan baik oleh pendengarnya. Dia mampu membentuk opini dan membawa alam pikiran pendengarnya sehingga cenderung untuk setuju dengan pendapatnya. Ini adalah kemampuan berkomunikasi, dan ini disebut sebagai soft skill. Namun jika dalam keseharian memang dia berkata senantiasa santun, ini adalah karakter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s