Jebakan dalam Penyelenggaran Pendidikan Karakter (3)

 

Oleh: Henmaidi, PhD.

Jebakan ke empat: Kurangnya pemahaman atas apa yang membuat karakter bisa bertahan pada diri sesorang. Jebakan keempat ini mendominasi banyak pemikir barat, yang tercermin dalam berbagai literatur yang saya temukan. Hal ini pula yang membuat model pembentukan karakter dari Barat menemui jalan buntu. Saya memahami bahwa karakter hanya akan bertahan kuat jika dikendalikan oleh rasa spiritual. Iman dan taqwa ringkasnya. Karakter tidak akan bertahan dengan kuat tanpa adanya unsur religius ini.

Coba bayangkan, sebagus apapun karakter seseorang yang hidup dinegara maju yang dikenal bersih dari KKN, kemudian dia berpindah ke tempat lain. Nah ditempat baru ini kesempatan untuk berbuat curang terbuka, di lingkungan barunya orang terbiasa dengan suap-menyuap. Dan lingkungan seakan memaksa terjadinya praktek-prakter tidak benar ini. Kira-kira apa yang terjadi jika orang ini tidak memiliki iman kuat? Mungkin dia akan goyah, atau malah sifat tamaknya muncul, sehingga akhirnya ikut menghalalkan segala cara.

Nah jika empat jebakan di atas sudah difahami dengan baik, maka barulah kita berbicara tentang bagaimana menyusun program pembangunan karakter itu. Proses pembangunan karakter memerlukan waktu yang relatif panjang, dan memerlukan adanya pengkondisian. Kalau sekedar soft skill bisa dibentuk melalui belajar dan latihan, namun untuk membentuk karakter ini tidak cukup. Diperlukan adanya kondisi yang sesuai untuk membentuk suatu karakter, dan kondisi itu seharusnya diciptakan. Model pembentukan karakter yang mirip-mirip dengan penataran P4 dahulu akan sulit mencapai sasaran, karena: kondisi lingkungan tidak mendukung. Menambah mata ajar karakter, sepertinya hanya akan membuang-buang waktu dan anggaran, sebab pada prakteknya akan sulit keluar dari jebakan pemenuhan ranah kognitif saja, tanpa menyentuh ranah afektif.

Program pembangunan karakter haruslah dilakukan secara holistik, menyeluruh. Langkah awal yang harus dilakukan adalah membentuk ketauladanan. Dalam skala luas: harus dimulai dari siapapun yang akan menjadi rujukan masyarakat: Mulai dari pimpinan negara serta penyelenggaran negara. Ibarat mandi, mengguyur harus dari kepala. Dalam skala lebih kecil untuk sekolah atau kampus, kesadaran atas karakter harus dimulai dari unsur pimpinan di kapun, guru/ dosen, pegawai. Pembangunan karakter dilakukan secara terencana di dalam setiap kegiatan: pembelajaran di kelas, di laboratorium, di organisasi kesiswaan/ kemahasiswaan.

Dengan begini baru program untuk siswa dan mahasiswa dapat dijalankan dengan baik. Di samping itu, orang tua dan masyarakat juga harus berperan serta secara aktif. Melalui pendekatan seperti ini mudah-mudahan program pembangunan karakter dapat berjalan lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s