Jebakan dalam Penyelenggaran Pendidikan Karakter (2)

 

Oleh: Henmaidi, PhD.

Jebakan Pertama: Tidak jelasnya Apa yang dimaksud dengan karakter. Ini menjadi jebakan pertama dalam mendisain program pembangunan karakter (saya lebih cenderung menyebutnya pembangunan dibanding pendidikan). Ini ibarat tujuan, yang hendak dituju tidak jelas. Persis seperti orang yang mau menembak burung, burungnya tidak jelas, kabur atau samar-samar. Ampok-ampok dalam samak, kata orang, untuang-untuang kanai.

Dalam pemahaman saya, karakter ini menunjukkan sifat, prilaku asli yang tidak dibuat-buat dan tidak direkayasa. Dia muncul secara spontan. Dia bukan soft skill apa lagi hard skill. Semisal orang dengan karakter jujur, maka dia akan jujur dalam tiap situasi. Tak perlu otaknya menimbang-nimbang untuk mengambil sikap jujur. Jika seseorang memilah-milah pada situasi mana dia akan jujur, maka sebenarnya dia bukan orang jujur. Demikian juga karakter amanah, dalam segala macam situasi orang yang berkarakter amanah akan selalu amanah, biarpun kesempatan berbuat curang terbuka lebar tanpa diketahui orang.

Dengan pemahaman seperti ini maka kita akan dengan mudah menemukan contoh-contoh karakter seperti: Amanah, Sabar, Empati, Jujur, Adil, Tanggung jawab, Ikhlas dan banyak lagi.

Jebakan kedua: Pemahaman atas ranah Karakter. Setelah jelas apa yang dimaksud dengan karakter, karena kita mau mengaitkannya dengan proses pedagogi dan andragogi, maka yang perlu dipahami selanjutnya adalah di mana ranah karakter ini berada. Saya memahami karakter sesungguhnya berada pada ranah afektif. Bukan kognitif dan bukan pula psikomotor. Dengan demikian proses pembangunan karakter semestinyalah tidak direduksi kedalam kurikulum, berbentuk mata pelajaran atau mata kuliah. Kalau dia dimasukkan ke dalam mata ajar atau kuliah, dikhawatirkan terjebak lagi dalam ranah kognitif. Hasilnya nanti, siswa atau mahasiswa dapat menjelaskan dengan lancar tentang kejujuran, etika, kesabaran, keikhlasan, namun persoalan apakah dia bersikap seperti yang dijelaskannya itu, adalah persoalan lain. Ini akan kembali seperti penataran P4 masa lalu yang terhenti pada ranah pengetahuan.

Jebakan ke tiga: Kurangnya pemahaman atas bagaimana proses pembentukan karakter. Jika hal ini tidak dipahami dengan jelas, bagaimana program pembangunan karakter akan disusun? Saya memahami proses pembentukan karakter ini terdiri atas lima tahap:

tahap pertama: Pengetahuan dan Pemahaman atas suatu karakter. Jika sudah tahu dan paham dengan karakter tersebut, baru mulai Tahap kedua yaitu proses meniru dan menerapkan. Kemudian tahap ke tiga pembiasaan, di mana karakter itu mulai dijadikan kebiasaan.

Tahap ke empat pembudayaan, dimana tidaklah cukup segelintir orang saja yang membiasakan berkarakter, sementara lingkungan tidak, semua yang ada dalam lingkungan masyarakat haruslah juga diupayakan untuk memiliki karakter tersebut. Setelah melewati tahap pembudayaan, baru masuk pada tahap ke lima: menjadi karakter.

Tahapan ini sebenarnya sejalan dengan pepapat Minang: ketek taaja-aja, gadang tabao-bao, tuo taubah tido, nah ketika sudah taubah tido inilah sifat itu menjadi karakter.

Dengan ini, kita faham, sangat sulit membentuk karakter jujur jika seorang anak hidup dalam lingkungan tak jujur. Sulit membentuk karakter sabar jika orang tua pemarah, guru parabo, atau lingkungan tidak mendukungnya. Bagaimana mungkin karakter sopan dan santun akan terbentuk jika sejak kecil anak-anak mengamati lingkungan yang tidak mendukung, disuguhi tontonan tidak mendidik, melalui berbagai media cetak dan elektronik?. Tentu demikian juga keadaannya dengan karakter-karakter lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s