Harakiri: Model Karakter Satria Jepang

Seorang perwira atau jenderal perang jepang pada masa lalu memiliki adat yang disebut sebagai Seppuku atau harakiri. Mereka membunuh diri dengan cara merobek perut mereka dengan tujuan  untuk memulihkan nama mereka atas kegagalan dalam melaksanakan tugas dan/atau melakukan kesalahan untuk kepentingan rakyat.

 Pada zamannya pelaksanaan seppuku dilakukan dengan mengikuti ritual tertentu. Ritual ini dilakukan didepan orang lain. Seorang samurai yang berencana melakukannya akan mulai dengan membersihkan diri/ mandi, mengenakan pakaian putih dan memakan makanan favoritnya. Setelah selesai, dia akan meletakkan peralatannya di atas piring, mengenakan pakaian resmi, kemudian meletakkan pedangnya didepan. Dia kemudian bersiap menghadapi kematian dengan menulis puisi.

Sang samurai didampingi rekannya yang berdiri tak jauh di belakang, dia membuka kimono putih. Dia mengambil pedang, dan memegang pada bagian mata pedang yang dibalut dengan kain agar tangannya tidak terluka. Sang samurai kemudian akan merobek perutnya dari kiri ke kanan. Begitu selesai, rekannya segera bertindak memenggal kepalanya.

Sang samurai didampingi rekannya yang berdiri tak jauh di belakang, dia membuka kimono putih. Dia mengambil pedang, dan memegang pada bagian mata pedang yang dibalut dengan kain agar tangannya tidak terluka. Sang samurai kemudian akan merobek perutnya dari kiri ke kanan. Begitu selesai, rekannya segera bertindak memenggal kepalanya.

Apakah ini hanya cerita masa lalu? Ternyata tidak. Tahun 2001 seorang CEO kedapatan melakukan harakiri. Dia bernama Inokuma yang berasal dari  Yokosuka, Kanagawa, Jepang. Inokumadahulunya adalah seorang alit Judo. Dian mulai berlatih judo pada usia 15. Dia kemudian kuliah di Tokyo University of Education saat ini bernama University of Tsukuba, dan memenangkan All-Japan Judo Championships tahun 1959 pada usia 21 tahun dan menjadi mahasiswa pertama yang memenangkan gelar tersebut. Berturut-turut berbagai kejuaraan diikutinya.

Tahun 1964 dia meraih medali emas pada Olimpiade musim panas, masuk dalam kategori di atas 80 kg. Pada babak final, dia mengalahkan pejudo Kanada Doug Rogers yang pada waktu itu 30 kg lebih berat dari Inokuma. Tahun 1965, Inokuma mengikuti kejuaraan Judo Dunia di kelas terbuka, dengan maksud menghadapi juara Judo Belanda Anton Gesink. Namun Geesink masuk di kelas +80 kg, sehingga tidak bertemu dengan Inokuma. Keduanya kemudian keluar sebagai juara dengan medali emas di kelas masing-masing. Inokuma menyatakan pensiun dari Judo segera setelah kejuaraan itu dengan alasan tidak punya motivasi lagi.

Tahun 1966 dia berhenti dari Tokyo Police Department dan menjadi executive pada perusahaan Tokai Construction company. Selain itu juga masih melanjutkan sebagai pelatih Judo dan penasihat pada International Judo Federation. Dia menjadi pelatih Yasuhiro Yamashita yang kemudian menjadi peraih medali emas olimpiade. Inokume juga penjadi penulis beberapa buku yang berkaitan dengan Judo.

Tahun 1993 Inokuma menjadi CEO  pada Tokai Kensetsu, namun kemudian memutuskan harakiri pada tahun 2001 disebabkan kerugian finansial yang diderita perusahaan itu. Orang mengaitkan jalan yang diambilnya ini dipengaruhi oleh budaya yang berkembang sejak sangat lama. Dia ingin memperbaiki nama baiknya dengan cara melakukan Harakiri, ketimbang hidup menanggung malu akibat kegagalan dalam memimpin perusahaan.

Ilustrasi di atas menunjukkan adanya faktor tertentu yang membentuk karakter, khas untuk suatu bangsa, dalam contoh di atas adalah Jepang. Karakter seperti ini mungkin sulit kita jumpai dalam bentuk yang sama pada bangsa lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s